PENGUJIAN KONSENTRASI BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND (BOD)
PADA AIR TANAH PEMANDIAN UMUM DESA BABAKAN RAYA III
Dina
Analya1, Harits Kusuma
Andaerri 2
Departemen Teknik Sipil dan
Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Jln. Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor,
16680
Abstrak:
Babakan Raya atau sering dikenal dengan Bara, adalah suatu permukiman yang
terletak di kawasan kampus IPB, Dramaga. Bara memiliki permukiman yang padat
dan sebagian besar mahasiswa IPB tinggal di daerah tersebut. Umumnya, desa
Bara memiliki masalah terhadap air, baik
dari sudut pandang kualitas atau masalah kelancaran dalam penggunaannya.
Masyarakat sekitar yang kurang peduli terhadap lingkungan menyebabkan kualitas
air tanah desa Babakan Raya III tercemar limbah. Praktikum polusi tanah dan air
tanah menggunakan contoh uji pada sumur pemandian umum Bara III. Contoh uji
kemudian dianalisis untuk mengetahui konsentrasi BOD yang terkandung di
dalamnya. Metode yang digunakan untuk mengetahui konsentrasi BOD dengan uji
laboratorium menggunakan metode titrasi winkler. Hasil yang didapatkan konsentrasi
BOD pada contoh uji air tanah sebesar 2.12 mg/l. Berdasarkan pasal 8 PP No.82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air, baku mutu air tanah termasuk dalam kategori kelas I. Kategori
Kelas I adalah air yang digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan
lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Hasil
ini kemudian dibandingkan dengan beberapa kelompok praktikum sehingga dapat
diketahui kandungan BOD air tanah di sekitar kampus IPB yang paling rendah dan
paling tinggi. Tujuan dari praktikum ini untuk mengetahui hasil konsentrasi BOD
setiap titik sampling dengan efluen kontaminan dari berbagai macam aktivitas
yang masuk ke dalam air tanah serta dampak yang ditimbulkan bila konsentrasinya
di atas baku mutu. Membandingkan konsentrasi BOD pada setiap titik sampling
untuk menentukan tingkat pencemaran air tanah. Memberikan solusi alternatif
dalam mengatasi konsentrasi BOD berlebih di dalam air tanah.
Kata Kunci: Air Tanah, Bara
III, BOD, Efluen, Titrasi Winkler
Abstract:Babakan raya is usually called Bara, is a
residential located in around IPB, Dramaga. Bara have densely populated
residential and mainly IPB students are livied in the area. Generally, Bara has
a problem to water, both from the point of view of the quality or fluency
problems in its use. People are less concerned about the environment cause
groundwater quality Babakan Rays III contaminated waste.
Practical soil pollution and
groundwater using the sample wells bathhouse Bara III. The samples were then
analyzed to determine the concentration of BOD contained in it. The method used
to determine the concentration of BOD by laboratory testing using the Winkler
titration method. The results obtained BOD concentration in the groundwater
sample is 2.12 mg / l. Under
provision 8 of Regulation No.82/2001 on
the Management of Water Quality and Water Pollution Control, ground water
quality standards included in the category of class I. Class I category is
water used for drinking water raw water, other uses that require water quality
equal to the usefulness. These results are then compared with several groups of
lab so as to know the content of BOD groundwater around campus IPB lowest and
highest. The purpose of the lab is to examine the results of the BOD
concentration of each sampling point with effluent contaminants from a wide
variety of activities that go into the ground water and the impact when the
concentration is above the standard. Comparing the BOD concentration at each sampling point to determine the
extent of groundwater contamination. Provide alternative solutions to overcome
excessive BOD concentrations in the groundwater.
Keywords: Bara III, BOD, Effluent, Groundwater
,Winkler Titration
PENDAHULUAN
Biochemical
Oxygen Demand (BOD) merupakan salah satu parameter penentuan kualitas air
yang mengindikasikan kadar limbah organik pada suatu badan air. Umumnya, Bara
III memiliki masalah terhadap air, baik
dari sudut pandang kualitas atau masalah kelancaran dalam penggunaannya. Masyarakat
sekitar yang kurang peduli terhadap lingkungan menyebabkan kualitas air tanah
di Bara III tercemar limbah. Sumur pemandian umum di Bara III biasanya digunakan oleh penduduk sekitar
untuk mencuci pakaian dan mandi. Awalnya,
sumur di Bara III digunakan oleh penduduk sekitar untuk minum tetapi sekarang
kualitas air tanahnya tidak layak lagi digunakan untuk sumber air minum. Oleh
karena itu, praktikan tertarik untuk menguji kualitas air tanah di desa Babakan
Raya III pada praktikum Polusi Tanah dan Air Tanah. Praktikan menganalisis
kandungan BOD yang terkandung di dalam air tanah tersebut.
Pengambilan sampel dilakukan di tempat
pemandian umum daerah Babakan Raya III
(Bara III) untuk mendapatkan konsentrasi DO0 dan konsentrasi DO5
sehingga diperoleh konsentersi BOD. Penentuan konsentrasi BOD bertujuan
sebagai parameter pengukuran beban pencemaran pada air tanah, sehingga dapat
mengetahui kondisi toksik dan adanya bahan-bahan yang sulit didegradasi. Mengetahui
hasil konsentrasi BOD setiap titik sampling dengan efluen kontaminan dari
berbagai macam aktivitas yang masuk ke dalam air tanah serta dampak yang
ditimbulkan bila konsentrasinya di atas baku mutu. Memberikan solusi alternatif
dalam mengatasi konsentrasi BOD berlebih di dalam air tanah.
TINJAUAN PUSTAKA
Kualitas air merupakan salah satu aspek yang makin banyak diperhatikan
dalam pengelolaan sumberdaya air karena disamping persyaratan mengenai kualitas
air harus diperhatikan, saat ini terlihat kecendrungan terjadinya penurunan
kualitas air di beberapa daerah terutama daerah perkotaan.
Pencemaran air tanah atau penurunan
kualitas air tanah berhubungan erat dengan tingkat kepadatan penduduk, sebab
semakin banyak jumlah penduduk maka limbah yang dibuang ke lingkungan akan
semakin besar (Trisnawulan 2007). Penurunan kualitas air bawah tanah ataupun
pencemaran ini akibat sanitasi yang kurang baik seperti adanya rembesan air
limbah dari rumah tangga termasuk rembesan dari septictank.
Kebutuhan oksigen biologi (BOD)
didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada
saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik
diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan
makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (PESCOD 1973). Parameter
BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air
buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran.
Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut
pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme
tersebut menguraikan bahan organik yang ada, pada kondisi yang harnpir sama
dengan kondisi yang ada di alam. Selama pemeriksaan BOD, contoh yang diperiksa
harus bebas dari udara luar untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang ada
di udara bebas. Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada
suatu tingkat pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen
terlarut selalu ada selama pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat
kelarutan oksigen dalam air terbatas dan hanya berkisar ± 9 ppm pads suhu 20°C
(SAWYER 1978).
Berdasarkan PP No.82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air, terdapat pasal 8 yang menjelaskan tentang klasifikasi mutu air
ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas. Kelas satu, air yang peruntukannya dapat
digunakan untuk air bakti air minum, dan atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Kelas dua, air
yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air,
pembudidayaan ikan air tawar, peternakan air untuk mengairi pertanaman, dan
atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut. Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan
atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan
tersebut. Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi
pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama
dengan kegunaan tersebut.
METODE PRAKTIKUM
Pelaksanaan praktikum pengujian BOD pada
air tanah di daerah Babakan Raya (Bara) yaitu di Laboratorium Praktikum Polusi
Tanah dan Air Tanah, pada tanggal 26
Februari 2014, pukul 09.00- 12.00. Praktikum
ini digunakan alat dan bahan seperti contoh uji air tanah, botol inkubasi winkler
(botol BOD) 250-300 ml lengkap dengan tutup, labu ukur 1 liter 1 buah, 3 labu
ukur 2 liter, bermacam-macam pipet volumetri dan probe pipet, erlenmeyer 250 ml
dan 500 ml masing-masing 1 buah. Buret 25 atau 50 ml 2 buah, bermacam-macam
pipet, gelas arloji, aerator, air suling yang tidak boleh mengandung zat
beracun terhadap mikroorganisme seperti Cr, Hg, Cd, Cl2, kloramin, asam,
dan basa. Larutan mangan sulfat (MnSO4), asam sulfat (H2SO4)
pekat, pereaksi kombinasi KJ + NaN3 alkali. Larutan Na-tiosulfat (Na2S2O3)
0,0125 N, larutan kanji, larutan penyangga fosfat, larutan magnesium sulfat
(MgSO4), larutan natrium sulfit Na2S2O3
0,025 N, larutan asam glutamat-glukosa, larutan kalsium klorida (CaCl2),
larutan ferriklorida (FeCl3), dan larutan basa NaOH atau KOH dan
asam HCl atau H2SO4 1 N.
Kadar BOD diuji pada air tanah ini menggunakan contoh uji air yang
diambil dari pemandian umum di daerah Babakan Raya III. Pengambilan contoh uji
air menggunakan botol winkler yang dilakukan dengan cara menyelupkan seluruh
permukaan botol winkler ke dalam danau hingga seluruh volume botol winkler
terisi oleh sampel air, dan harus dipastikan dalam botol winkler tidak ada
gelembung udara untuk mencegah terjadinya kontaminasi sampel dengan zat lain.
Botol winkler yang telah penuh berisi sampel air kemudian disumbat dengan
penyumbatnya. Pengambilan sampel air ini dilakukan kembali dengan menggunakan 2
botol winkler yang salah satunya digunakan untuk penentuan konsentrasi oksigen
terlarut setelah lima hari.
Pengukuran kadar oksigen terlarut (DO0) pada sampel air yang
dilakukan dengan metode titrasi winkler. Metode ini diawali dengan menyiapkan
satu botol winkler berisi sampel air yang telah diambil sebelumnya. Sampel air
pada botol winkler tersebut kemudian diteteskan dengan 1 ml larutan MnSO4
dan 1 ml kombinasi alkali pada dasar botol dengan menggunakan pipet. Botol
winkler kemudian ditutup rapat-rapat dengan penyumbatnya, lalu dikocok-kocok
hingga timbul endapan, kemudian larutan dalam botol winkler ditambahkan dengan
2 ml H2SO4 pekat lalu dikocok kembali hingga larutan
tersebut berwarna kuning. Larutan tersebut kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3
0,0125 N menggunakan buret hingga larutan berwarna kuning muda, lalu dicatat
jumlah larutan Na2S2O3 yang digunakan. Apabila
setelah titrasi larutan menjadi berwarna bening, maka proses titrasi gagal dan
harus diulang.
Larutan yang telah dititrasi tersebut
kemudian ditambahkan dengan larutan kanji hingga warna larutan berubah menjadi
biru kembali, kemudian dititrasi untuk kedua kalinya dengan menggunakan larutan
Na2S2O3 0,0125 N hingga warna biru tepat
menghilang, setelah itu volume larutan Na2S2O3
0,0125 N yang digunakan untuk titrasi kedua dicatat. Berdasarkan dua nilai
konsentrasi larutan Na2S2O3 0,0125 N yang
digunakan untuk titrasi dapat dihitung nilai konsentrasi oksigen terlarut
dengan menggunakan persamaan :
Konsentrasi DO = (1000 . V1. Nthio. 8) / (V2-2)………(persamaan
1)
Keterangan
:
V1 = Volume Na2S2O3 yang
terpakai untuk titrasi (ml)
Nthio =
Konsentrasi larutan Na2S2O3 (N)
V2 = Volume sampel air yang diperiksa (ml)
Sedangkan untuk menentukan konsentrasi BOD dalam air tanah dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan :
BOD(20oC, 5 hari) = (DOo
– DO5 ) x faktor pengenceran……..(persamaan 2)
Keterangan:
BOD(20oC, 5 hari) = Konsentrasi BOD lima hari (mg/l)
DO0 = Konsentrasi O2 terlarut saat
hari pengambilan sampel (mg/l)
DO5 = Konsentrasi O2 terlarut setelah
5 hari (mg/l)
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Percobaan ini dilakukan pada air tanah yang
diambil di tempat pemandian umum daerah Babakan Raya III untuk menganalisis
oksigen yang diperlukan mikroba dalam mengoksidasi bahan organik. Semakin
banyak bahan organik yang ada dalam contoh uji air limbah maka semakin banyak
juga oksigen yang diperlukan oleh mikroba. Untuk mengetahui oksigen yang
diperlukan oleh mikroba maka ditentukan DO awal dan DO setelah diinkubasi
selama lima hari, selisih yang dihasilkan adalah oksigen yang diperlukan oleh
mikroba.
Berdasarkan praktikum ini, hasil yang
didapat nilai konsenterasi tercantum pada tabel 1. Nilai konsentrasi DO pada
hari pertama yaitu sebesar 2.5 mg/l dan nilai konsentrasi DO pada hari ke lima
sebesar 3.2 mg/l. Berdasarkan hasil tersebut bahwa konsentrasi DO hari ke lima
lebih besar dari konsentrasi DO hari pertama. Hal tersebut, karena adanya aktivitas
mikroorganisme di dalam air, sehingga oksigen yang terdapat dalam larutan
tersebut berkurang. Semakin banyak oksigen yang berkurang pada contoh uji air
maka semakin banyak mikroorganisme. Berdasarkan hasil percobaan, sekitar 70-80%
zat organik telah terurai dalam waktu 5 hari percobaan BOD. Besarnya persentase
penguraian tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis zat organik dan jenis
mikroorganisme yang terdapat pada percobaan BOD. Selain itu, alasan pemilihan
waktu 5 hari untuk mengurangi gangguan dari oksidasi senyawa nitrogen oleh
mikroorganisme (reaksi nitrifikasi). Selisih antara DO0 dan DO5
adalah BOD, kandungan BOD pada contoh uji air tanah sebesar 2.12 mg/l. Kriteria
mutu air berdasarkan PP 82 tahun 2001 dapat dilihat pada lampiran 2, maka
kandungan BOD pada contoh uji air tanah Bara III termasuk dalam kelas satu. Kelas
satu, air yang dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan
lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Perbandingan pengujian konsentrasi BOD
pada contoh uji air tanah dari semua kelompok praktikum yang dapat dilihat pada
tabel 2. Konsentrasi BOD maksimum pada kelompok 5 sebesar 2.12 mg/l, minimum
pada kelompok 1 sebesar 0.027, dan keadaan anomali terjadi pada kelompok 6
sebesar -3.51 mg/l. Keadaan anomali pada kelompok 6 disebabkan terjadinya
kesalahan pada saat praktikum. Hal tersebut kemungkinan botol winkler yang
telah tertutup rapat masih terdapat oksigen sehingga munculnya gelembung dan
endapan dan tabung pada saat praktikum yang kurang bersih mengakibatkan adanya
mikroorganisme yang masih tersisa pada tabung tersebut.
Tabel 1 Data hasil pengujian
contoh uji air kelompok 5.
No.
|
V contoh uji air (ml)
|
V botol winkler (ml)
|
V titrasi DO0 (ml)
|
V titrasi DO5 (ml)
|
Konsentrasi DO0
(mg/l)
|
Konsentrasi DO5
(mg/l)
|
BOD
(mg/l)
|
1
|
50
|
300
|
2.8
|
2.5
|
5.32
|
3.2
|
2.12
|
Tabel 2 Data perbandingan nilai
BOD.
No.
|
Lokasi
Pengambilan Sampel
|
BOD
(mg/l)
|
1
|
Dramaga
Regency
|
0.027
|
2
|
Ciherang
|
0.3
|
3
|
Duta
Berlian
|
1.9
|
4
|
Balumbang
Jaya
|
0.086
|
5
|
Babakan
Raya III
|
2.12
|
6
|
Balio
|
-3.51
|
7
|
Bara
IV
|
0.047
|
8
|
Leuwikopo
|
0.388
|
SIMPULAN
Praktikan menyimpulkan berdasarkan hasil
praktikum pengujian kadar BOD pada air tanah pada daerah Bara III, terdapat
kandungan BOD sebesar 2.12 mg/l. Nilai tersebut didapat dari hasil percobaan DO0
dikurangi DO5, hasil dari pengujian BOD air tanah termasuk kedalam
kategori kelas I, air yang digunakan untuk air baku air minum, dan atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut berdasarkan pasal 8 PP
No.82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Berdasarkan
perbandingan delapan kelompok, kelompok 5 konsentrasi BOD paling besar sebesar
2.12 mg/l, kelompok 1 konsentrasi BOD paling kecil sebesar 0.027 mg/l, dan
keadaan anomali pada kelompok 6 sebesar -3.51 mg/l. Adanya keadaan anomali ini
terjadi akibat kesalahan pada praktikum, seperti adanya oksigen di dalam botal
dan alat yang kurang bersih.
SARAN
Praktikan menyarankan dalam pengujian BOD
air tanah sebaiknya dilakukan tidak hanya sekali guna mendapatkan data yang
lebih akurat sehingga apabila kawasan yang diteliti itu tidak memiliki kadar
BOD melebihi batas baku mutu, sehingga kawasan tersebut harus dijaga dan
dirawat kebersihan lingkungan, agar pencemaran lingkungan dapat diminimalkan
dan dapat mengurangi dampak pencemaran yang di pengaruhi oleh konsentrasi BOD
di air tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Trisnawulan.
2007. Analisis Kualitas Air Sumur Gali di Kawasan Pariwisata Sanur. Ecotrophic
Volume 2 No.2. ISSN 1907-5626
SAWYER,
C.N and P.L., MC CARTY, 1978. Chemistry for Environmental Engineering.
3rd ed. Mc Graw Hill Kogakusha Ltd.: 405 - 486 pp.
PESCOD,
M. D. 1973. Investigation of Rational Effluen and Stream Standards for Tropical
Countries. A.I.T. Bangkok, 59 pp
No comments:
Post a Comment