Hei, kau yang ada di sana!
Ya, kau. Yang sedang beranjak tua.
Sudah berapa lama kau hidup sebagai seorang pemuda??
Dengan tubuhmu yang masih kuat seperti baja,
Semangatmu yang sering meletup dan menggelora,
Juga daya pikirmu yang kerap membuncah,
apa yang sudah kau perbuat untuk kebaikan dirimu di masa kini dan nanti?
Sudahkah kau berprestasi sehingga membuat bangga Ibu Pertiwi?
Ketahuilah wahai pemuda..
Kalian adalah permata bangsa yang tiada bandingannya.
Kalian benih peradaban, pejuang masa depan.
Kalian penentu kemenangan bangsa dalam melawan kemiskinan dan kejahatan.
Kalian pengganti kaum tua ketika sudah banyak dari mereka yang tak bisa dipercaya.
Kamulah harapan dan tumpuan negara, Indonesia.
Ketahuilah wahai pemuda..
Sumpah Pemuda menjadi bukti bahwa pemantik kemerdekaan di negeri ini adalah kalian, para pemuda.
Tanpa pemuda waktu itu, mungkin bumi Indonesia tetap dalam cengkraman penjajah yang pongah dan serakah.
Ir. Soekarno berkata, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Bukanlah khayalan, apalagi candaan. Kalian memang punya kemampuan untuk melakukan yang demikian.
Rasanya, 1001 masalah di negeri ini bukanlah hambatan perubahan, anggaplah sebagai tantangan yang mesti diselesaikan. Oleh kalian, hingga penerus kalian di depan.
Belum terlambat untuk membangunkan negeri ini dari keterpurukan. Sungguh belum terlambat..
Sebelum bumi diluluhlantakkan oleh Tuhan, pasti akan selalu ada kesempatan yang diberikan Tuhan.
Tuhan pun menekankan, setiap kesulitan pasti memiliki kemudahan yang berjalan beriringan.
Dan menjadi sebuah keniscayaan, Indonesia akan mencapai kejayaan yang selama ini diimpikan.
Indonesia Jaya, Indonesia sejahtera.
Saatnya bangkit kawan!!
Ayo, kita eratkan genggaman tangan, untuk bersama-sama melakukan perubahan.
Tak ada yang tak bisa diselesaikan selama kita berjuang dalam visi yang sama.. Indonesia Jaya.
Segera ambil peranan yang bisa kita lakukan.
Bahkan walaupun peran yang terlihat kecil dan sederhana, jangan ragukan.
Toh, prestasi besar itu kumpulan doa dan usaha sederhana yang rutin dilakukan, bukan?
Maka, pastikan kita menjadi pasukan dalam perjalanan panjang menuju Indonesia Jaya, bersama pejuang kemerdekaan yang telah bersemangat mengawali perubahan.
Perjuangan hingga menutup mata, demi tanah air tercinta, Indonesia Raya.
10/28/2013
10/19/2013
Tausiyah
Suatu hari Imam Ghazali
bersama murid-muridnya. Bertanyalah
sang guru kepada mereka yang sedang berkumpul
di sana, "Di dunia ini, apakah yang paling dekat dengan kita?".
Murid-muridnya ada yang menjawab orangtua, guru, teman, kaum kerabat. Dan Imam Ghazali
menjawab, "Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling dekat dengan kita
sebenarnya adalah
KEMATIAN. Karenanya, janji Tuhan bahwasanya
setiap yang bernyawa pasti akan mati (QS. 3:185).
Imam Ghazali melanjutkan
dengan pertanyaannya yang kedua, "Di dunia ini, apakah yang paling jauh
dari kita?". Muridnya ada yang menjawab negeri China, bulan, matahari,
bintang. Kemudian Imam Ghazali menjawab, "Semua jawaban itu benar, tetapi yang
paling jauh adalah MASA LALU. Kita tidak pernah bisa menjangkaunya lagi walau
sedetik. Karenanya gunakan waktu kita dengan sebaik-baiknya.
Lalu Imam Ghazali melanjutkan
dengan pertanyaannya yang ketiga, "Di dunia ini, apakah yang paling
berat?" Murid-
muridnya pun ada yang menjawab baja, besi, gajah.
Dan Imam Ghazali menjawab, "Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling
benar adalah MEMEGANG AMANAH. Langit, bumi, gunung, dan malaikat semua tidak
mampu ketika Allah Swt., meminta mereka menjadi khalifah di dunia ini. Tetapi
manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah Swt, (QS. 33:72)."
Pertanyaan Imam Ghazali berlanjut, "Di dunia
ini, apakah yang paling ringan?" Dan murid-muridnya pun ada yang menjawab
kapas, angin, debu, dedaunan. Imam Ghazali kembali menjawab, "Semua
jawaban itu benar, tetapi yang paling benar adalah MENINGGALKAN SHALAT. Begitu
mudah orang meninggalkan shalat gara-gara urusan di dunia. Padahal shalat
adalah tiang agama, yang kelak menjadi jawaban utama sepeninggal kita hidup di
dunia."
Imam Ghazali bertanya kembali, "Di dunia ini
apakah yang paling besar?" Lagi-lagi muridnya menjawab dengan berbagai
jawaban seperti gunung, bumi, matahari. Imam Ghazali menjawab, "Semua
jawaban itu benar, tetapi yang paling benar adalah HAWA NAFSU, mereka mempunyai
hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah
dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak
dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai
telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah, (QS.
7:179)."
Pertanyaan terakhir dari Imam Ghazali, "Di
dunia ini, apakah yang paling tajam?" Murid-muridnya pun menjawab pedang.
Imam Ghazali menjawab, "Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling benar
adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati
dan melukai perasan saudaranya sendiri."
10/14/2013
Tiba-tiba Kangen Rumah
Lebaran haji besok, malam ini malam takbiran, ntah kenapa lebaran haji tahun ini aku merasakan biasa-biasa saja, tidak seperti lebaran haji tahun kemarin. Tahun ini aku berlebaran di kontrakan, di daerah orang, suasananya berbeda seperti di kampung halamanku, disini sepi, di kampus sepi, teaman-temanku pada pulang ke daerahnya masing-masing, untungnya aku tidak sendirian disini, ada beberapa orang temanku yang tidak pulang dan senasip denganku karena rumahnya jauh. Ya kali ini aku baru merasakan nasip sebagai anak perantauan, jauh dari sanak keluarga, pulang setahun 2 kali, atau bahkan baru pulang setelah lulus. "Emak aku mau pulang, disini tidak terasa suasana lebaran, aku pengen lebaran disana, pengen makan ketupat, lepat, soto, kue lebaran, pengen bersilahturahmi ke rumah saudara, ..."(suaraku dalam hati). Yah ginilah anak kuliahan yang merantau, mau pulang tapi ongkosnya mahal. Gimana ya perasaan orang tua yang tidak berlebaran besama anaknya, pasti mereka kangen, merasa sedih tidak kumpul sekeluarga. Ya nanti aku merasakan hal yang sama ketika aku sudah punya anak kelak.
Pesanku untuk anak perantauan yang pulang ke daerahnya masing-masing, manfaatkan momen bertemu keluarga, minta lah maaf kepada kedua orang tua,saudara, dan teman-teman kalian disana. Selamat Hari Raya Idul Adha 1434H mohon maaf lahir dan batin.
Subscribe to:
Posts (Atom)